DBD Kutim Termasuk Kejadian Luar Biasa

DBDSangatta,DisHubKomInfo. Tingginya angka kasus demam berdarah (DBD) di Kutim  menjadi perhatian semua pihak, tidak terkecuali pemerintah kabupaten Kutai Timur yang menjadi pengambil kebiijakan untuk mengambil langkah-langkah mengurangi atau sekaligus menjadikan Kutim Zero Insiden Demam Berdarah

Seperti data yang diperoleh, kasus DBD yang terjadi di kutim mengalami pelonjakan yang sangat signifikan jika dibandingkan tahun lalu. Tahun 2015 kasus DBD di seluruh Kutim berjumlah 654, sedangkan tahun 2016 meningkat  tajam  hingga 1050 kasus per Juli 2016 s

Data ini merupakan warning bagi seluruh warga kota tercinta, bahwa DBD sedang mengincar kita semua dari seluruh tingkatan umur.  Apalagi jumlah korban hingga juli  2016 ini telah menelan korban 13 nyawa   sehingga sudah masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB)

Melalui Dinas Kesehatan Kutim, pemerintah mengadakan rapat koordinasi  pencegahan dan penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DB) dengan mengundang seluruh pemangku kepentingan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti Kepala Desa, RT, Kepala UPT Pendidikan kecamatan, UPTD Kebersihan, Kepala Puskesmas dan Guru-Guru UKS serta Majelis majelis Taklim

Hal ini dimaksudkan agar informasi tentang DBD dapat langsung diterima  masyarakat,  sekaligus  membahas langkah—langkah sinergitas  dan berkelanjutan antara pemerintah dan stake holder untuk menanggulangi DBD

Rapat Koordinasi yang berlangsung kemarin  di Ruang tempudau dibuka  Bupati  Ismunandar didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr.Aisyah. hadir  sebagai nara sumber dr.Suharsono dari Dinas Kesehatan Prov.kaltim yang sekaligus penyuluh DBD Provinsi Kaltim

Dalam sambutannya Ismu menginstruksikan agar dibuat gerakan masyarakat atau Gemas untuk pemberantasan DBD yang melibatkan seluruh masyarakat Kuitm yang ada, baik di kota maupun di kecamatan. Undang seluruh RT-RT yang ada. Langkah  ini merupakan langkah  awal dan seluruh SKPD harus terlibat didalamnya

 

Selanjutnya buat sebuah cara atau system atau apapun namanya  agar gerakan ini terus berkelanjutan, jangan hanya sampai disini saja. Karena kalau acara seremonial saja, saya yakin aksi ini tidak mendapat kesan baik di masyarakat dan yang paling penting kasus DBD di Kutim tidak akan berkurang, tutupnya (Jw/Ria)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 3 =