SAMARINDA - Pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dilakukan melalui penegakan hukum, melainkan harus dimulai dari pembentukan karakter, moral, dan nilai kejujuran sejak dalam keluarga.
“Keluarga merupakan sekolah pertama dalam kehidupan. Tempat nilai kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian ditanamkan sejak dini,”ucap Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Kutim, Trisno pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Keluarga Berintegritas yang berlangsung disalah satu hotel di Samarinda, Senin, (26/05/2026)
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Inspektorat Wilayah Kutim dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, menurutnya, korupsi sering kali berawal dari lunturnya nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kejujuran mulai ditinggalkan dan gaya hidup lebih diutamakan daripada etika, maka benih-benih korupsi mulai tumbuh. Karena itu, sambung Trisno, membangun keluarga berintegritas sejatinya adalah membangun benteng moral bagi bangsa.
“Seorang pemimpin atau pejabat publik yang tumbuh dari keluarga yang menjunjung integritas akan memiliki komitmen moral yang kuat dalam menjalankan amanah,” katanya.
Trisno juga mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh serta menjadikan setiap materi yang diberikan sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadikan keluarga sebagai ruang tumbuhnya keteladanan, kejujuran, dan budaya malu terhadap perilaku koruptif sekecil apa pun,” tuturnya.
Ia juga menambahkan, integritas menjadi nilai penting di tengah perkembangan zaman dan tuntutan gaya hidup modern yang kerap menghadirkan berbagai godaan dan tekanan moral.
“Keberhasilan tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari kehormatan, kejujuran, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kutim, Jimmi, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen antikorupsi di lingkungan keluarga para wakil rakyat.
“Hari ini kita berkumpul bukan hanya sebagai kolega atau wakil rakyat, tetapi sebagai sebuah keluarga besar. Tema yang diangkat sangat penting karena menyentuh pondasi utama pengabdian kita, yakni membangun budaya antikorupsi dan keluarga berintegritas,” ucapnya.
Ia mengakui bahwa jabatan publik membawa tantangan dan godaan tersendiri. Karena itu, menurutnya, sistem pengawasan yang kuat harus dibarengi kesadaran moral dari dalam diri dan dukungan keluarga.
“Keluarga adalah benteng pertahanan pertama dalam mencegah tindak pidana korupsi. Peran pasangan sangat penting untuk saling mengingatkan ketika ada hal-hal yang mulai keluar dari jalur,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Jimmi juga menyoroti tingginya angka perceraian yang dipengaruhi persoalan ekonomi dan hadirnya orang ketiga. Menurutnya, kondisi tersebut memiliki keterkaitan dengan pola hidup dan integritas dalam keluarga.
“Godaan korupsi sering kali bermula dari gaya hidup dan tuntutan yang melebihi kemampuan. Karena itu, mari biasakan hidup bersahaja dan menjadikan integritas sebagai kebanggaan tertinggi di atas kemewahan materi,” pesannya.
Diketahui, kegiatan yang bertujuan untuk akan berjalan efektif selama satu hari tersebut diikuti oleh seluruh Anggota DPRD bersama istri/suami mengusung tema "Membangun Budaya Anti Gratifikasi dan Keluarga Berintegritas”, menghadirkan narasumber dari Komunitas Penyuluh Antikorupsi Kalimantan Timur (Kompak Kaltim), yakni Suwardi Sagama, Kunto Ariawan, Tirta Nisa, Siri Noor Aini, dan Retno Indrawati.
Penulis: Maulana
#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur,. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31,239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif,15 desa persiapan dan 2 kelurahan.