Tak banyak rumah makan yang berani menghadirkan jajanan dengan pilihan pedas beragam. Dari buku menu saja, rumah makan Omah Sambal sudah mambuat orang sekolah berada di taman sambal.

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

Rumah makan yang terletak di Jalan Dayung 400 meter dari Jalan Yos Sudarso III, Sangatta Utara, Kutai Timur, Kalimantan Timur ini, menjadi pemain tunggal dalam kompetisi restoran sambal. Menghadirkan konsep pedesaan yang teduh, pengunjung dimanjakan dengan nuansa khas Jawa.

Lagu nuansa Jawa jadi pengiring suasana makan. Para pramusaji yang bertugas mengenakan pakaian atribut traditional Jawa. Rasanya seakan sedang makan di Yogyakarta.

Sebelum menemui si pemilik restoran, sebenarnya saya sudah sering makan di rumah makan tersebut. Dapat disimpulkan, makanan yang disajikan merupakan khas lidah Indonesia. Beberapanya seperti lalapan, ayam kremes, pecel lele, jamur krispi, disertai beberapa sayuran seperti cah kangkung, maupun cah sawi.

Makanan khas Nusantara

Untuk menu yang menjadi ciri khasnya, yaitu deretan daftar pilihan sambal. Beberapa sambalnya tetap menggunakan standar lidah orang Indonesia, sehingga tak perlu takut salah pilih. Beberapanya, sambal terasi, sambal tomat, bawang, nanas, mangga, pete, jamur, dan beberapa lainnya.

Masing-masing sambal memiliki ragam jenis. Seperti sambal tomat, tersedia dengan pilihan sambal tomat bawang, sambal tomat terasi, maupun tomat goreng. Begitu pula pada sambal bawang, maupun sambal terasi, sehingga daftar pilihan menu sambal tersebut tampak panjang. Hal ini membuat puas pecinta makanan pedas.

Pada tiap sambal, dihargai sebesar Rp 4.000 per mangkuk kecil. Rasanya memuaskan. Bagi mereka yang sangat ketergantungan sambal, mungkin perlu memesan lebih dari satu jenis sambal dalam sekali makan supaya lebih puas.

Owner Omah Sambal Sangatta, Kusnadi mengatakan, rumah makan tersebut dirancang berdasarkan inspirasi dari kampung halamannya, Yogyakarta. Makanan yang disajikan memang berdasarkan lidah orang Indonesia. Sambal, adalah ciri khas yang ditonjolkan, merujuk pada kebiasaan orang Indonesia yang selalu menggunakan sambal setiap makan apa saja.

MENINGKAT

Kusnadi yang menjalankan bisnis kuliner tersebut, ternyata memiliki perjalanan yang baik, meski diawali dengan susah-payah. Mulainya berdiri pada 2016, pengunjung masih sepi. Omzet pun sekolah terseok-seok, sering dengan ramainya isu pelemahan ekonomi global dan defisif keuangan negara.

Sudah sekitar tiga tahun berdiri, Kusnadi mengaku, kini omzet sudah jauh lebih baik. Bahkan, sudah membuka cabang Omah Sambal di Jalan Juanda, Samarinda. “Ini sudah jauh lebih baik dibanding dulu. Cabang di Samarinda baru saja kami operasikan, dan melayani sama hanya seperti di Sangatta. Semoga ke depannya bisa berkembang lebih baik lagi,” papar lelaki yang juga merupakan pengurus organisasi wirausaha Tangan Di Atas (TDA) Kutai Timur itu. (lipray) 

KOMENTAR