SANGATTA - Webinar Reguler Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) berlangsung di Kabupaten Kutai Timur. Mengusung tema “Peran Aktif Sektor Komunitas dan Dunia Usaha Mendukung Eliminasi TBC Tahun 2030”.
Kegiatan yang di ikuti pengurus PPTI seluruh Indonesia ini berlangsung secara daring (ZoomMetting) ini di gelar di ruang Rapat Diskominfo Staper Kutim, Rabu, (23/09/2026). Tidak hanya menjadi tuan rumah, Ketua PPTI Kutim, Siti Robiah Ardiansyah juga berkesempatan menjadi narasumber pada kegiatan yang di buka langsung oleh Ketua PPTI pusat Yani Prayogo tersebut.
Ketua Umum BPP-PPTI Yani Panigoro menyebut, webinar reguler menjadi bagian dari langkah organisasi dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia, memperluas wawasan pengurus dan anggota, sekaligus membangun sinergi yang lebih nyata dalam penanggulangan TBC.
Ia menekankan bahwa kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, serta sektor swasta perlu terus diperkuat. Dalam konteks Kutai Timur, upaya tersebut juga diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat agar persoalan TBC tidak hanya dilihat dari sisi pengobatan, tetapi juga menyangkut edukasi dan aspek psikososial pasien.
Yani juga menilai keterlibatan dunia usaha memiliki ruang yang besar dalam mendukung program penanggulangan TBC. Kontribusi sektor industri dapat diwujudkan melalui dukungan terhadap kegiatan promotif dan preventif, edukasi kesehatan, maupun pendampingan masyarakat sehingga penanganan TBC dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan.
“Kami memberikan apresiasi kepada Kutai Timur yang memiliki komitmen kuat untuk terus melakukan eliminasi TBC khususnya di Kabupaten Kutai Timur,”ucap perempuanyang masih aktif sebagai Dosen di Universitas Indonesia ini.
Dalam paparanya, Ketua PPTI Cabang Kutai Timur Ir. Hj. Siti Robiah mengatakan, peran organisasi tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan, tetapi juga dengan terlibat langsung dalam upaya menemukan kasus, mendampingi pasien, mendorong pencegahan serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha dan berbagai unsur masyarakat.
Saat ini, PPTI Kutim telah memiliki 18 Pengurus Anak Cabang (PAC) yang tersebar di seluruh kecamatan. Jumlah pengurus PAC mencapai 283 orang. Penguatan organisasi tersebut menjadi salah satu modal untuk memperluas jangkauan kegiatan penanggulangan TBC hingga ke tingkat masyarakat.
Dalam pelaksanaan program, PPTI juga memperkuat kapasitas kader. Materi PPTI mencatat sebanyak 228 kader telah mendapatkan on job training (OJT), sementara pada 2026 sebanyak 282 kader telah mengikuti refreshing dan OJT yang merupakan perwakilan kader dari desa dan kelurahan.
Kader tersebut berperan dalam mendukung penemuan kasus melalui skrining, investigasi kontak serta rujukan masyarakat yang diduga mengalami TBC. PPTI juga terlibat dalam kegiatan tracing TBC yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 118 lokus dengan sasaran 11.800 orang.
Upaya pencegahan juga menjadi bagian dari kegiatan PPTI. Organisasi mendorong peningkatan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), khususnya bagi kontak erat maupun kontak serumah yang memenuhi kriteria. Cakupan TPT di Kutai Timur tercatat meningkat dari 4,7 persen pada 2025 menjadi 22,4 persen pada Januari-September 2026 berdasarkan data yang ditarik dari SITB per 18 September 2026.
Di sisi edukasi, PPTI secara rutin melakukan sosialisasi TBC di masyarakat, mulai dari lingkungan RT/RW, desa, sekolah hingga tempat ibadah. Kegiatan tersebut dilaksanakan sekitar tiga hingga lima kali dalam sebulan. PPTI juga melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama untuk membantu menyampaikan informasi mengenai TBC sekaligus mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien.
Peran PPTI juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Dalam materi tersebut disebutkan keterlibatan bersama Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perkim, Baznas, dunia usaha serta unsur masyarakat. Kolaborasi tersebut antara lain mencakup bantuan sosial, renovasi ventilasi dan jamban bagi penderita TBC, dukungan nutrisi, bantuan transportasi untuk proses rujukan pasien TBC resistan obat, hingga advokasi kepada perusahaan terkait pekerja yang mengalami TBC.
Pada 2026, PPTI juga telah menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada 200 pasien yang membutuhkan tambahan asupan nutrisi. Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pasien agar proses pengobatan dapat berjalan dengan baik.
Kegiatan yang berlangsung selama sehari itu juga menghadirkan narasumber, psikiater dr. Andi Zulkifli, serta Febriana Kurniasari yang mewakili salah satu perusahaan di Kutai Timur.(Maulana)
Keterangan Sumber: Setiap pengutipan, penyaduran, atau penggunaan informasi dan materi publikasi dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur agar mencantumkan sumber resmi serta menyertakan tautan menuju halaman atau berita asli.
#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31.239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif, 15 desa persiapan dan 2 kelurahan.