SANGATTA — Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi keberhasilan generasi muda daerah yang mampu membawa nama Kutim ke panggung nasional melalui ajang Grand Final Duta Budaya Indonesia (DBI) 2026. Capaian tersebut dinilai bukan sekadar prestasi individu, tetapi juga menjadi kesempatan memperkenalkan kekayaan budaya, pariwisata, hingga potensi ekonomi daerah kepada masyarakat luas.
Kebanggaan itu disampaikan Ardiansyah setelah menyaksikan penampilan dua wakil Kutim, Andi Besse Daratakku atau Andi Dara dan Aflinizar Julianur Fajar, dalam malam Grand Final DBI di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Surakarta, Rabu (21/10/2026).
Keduanya mewakili Kalimantan Timur dalam ajang bertema *Nusantara Berwastra*. Andi Dara yang berasal dari Kecamatan Bengalon berhasil meraih Juara Umum Putri Kategori Dewasa, sedangkan Aflinizar tampil sebagai finalis pada kategori putra dewasa.
Bagi Ardiansyah, keterlibatan putra-putri daerah dalam ajang kebudayaan nasional menjadi ruang penting untuk menunjukkan bahwa Kutim memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing sekaligus memperkenalkan identitas daerahnya.
"Keberhasilan perwakilan daerah dalam ajang ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta itu sendiri, tetapi juga menjadi momentum penting bagi pelestarian dan promosi budaya lokal Kutai Timur di kancah nasional," ujarnya.
Menurutnya, ajang Duta Budaya Indonesia memiliki nilai lebih dari sekadar kompetisi. Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan warisan budaya Nusantara, khususnya kain batik, sekaligus mendorong generasi muda memahami dan menjaga kekayaan budaya dari daerah masing-masing.
Salah satu kekayaan yang mendapat perhatian dalam ajang tersebut adalah batik Wakaroros, kain khas Kutim yang mengangkat inspirasi motif dari ukiran Suku Basap. Ardiansyah mengapresiasi penampilan motif tersebut karena mampu membawa identitas lokal Kutim ke hadapan peserta dan masyarakat dari berbagai daerah.

"Berbagai motif khas yang ditampilkan dari warisan Suku Basap itu sukses mencuri perhatian dan semakin memperkaya ragam pesona wastra Nusantara di mata masyarakat luas," ungkapnya seperti di Kutip dari Pro.Kutaitimur.com
Kebanggaan terhadap Wakaroros semakin bertambah setelah Andi Dara mampu menjelaskan kekayaan budaya tersebut di hadapan dewan juri. Pengetahuannya mengenai asal-usul motif menjadi bagian dari penampilan yang mengantarkannya meraih predikat tertinggi pada kategori putri dewasa.
Namun, promosi yang dibawa Andi Dara tidak berhenti pada batik. Ia juga memperkenalkan Kutim sebagai daerah yang memiliki beragam potensi, mulai dari sumber daya alam, pertanian, perkebunan, hingga kekayaan wisata alam dan sejarah.
Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat menjadi salah satu potensi yang diperkenalkan. Kawasan ini menyimpan lukisan prasejarah berusia ribuan tahun, bentang alam karst yang khas, serta nilai penting bagi kekayaan sejarah dan lingkungan. Kutim juga memiliki garis pantai yang panjang, kawasan hutan, dan keberagaman masyarakat dengan latar budaya yang berbeda.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa Kutim tidak hanya dikenal melalui sektor sumber daya alam, tetapi juga memiliki modal budaya, pariwisata, dan kreativitas masyarakat yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan daerah.
Ardiansyah menilai, pengenalan potensi daerah melalui generasi muda menjadi langkah positif untuk memperluas jangkauan promosi Kutim. Apalagi, ajang nasional seperti DBI memberikan kesempatan bagi peserta untuk menyampaikan langsung pengetahuan mengenai daerah asalnya.
Dukungan pemerintah daerah terhadap keikutsertaan wakil Kutim juga menjadi bagian dari upaya memberikan ruang bagi generasi muda untuk berprestasi. Andi Dara menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kutim dan masyarakat yang telah memberikan dukungan moral maupun material sejak tahapan seleksi hingga malam penobatan.
"Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan seluruh dukungan dari masyarakat Kutai Timur yang bisa membawa saya dalam Malam Grand Final Duta Budaya Indonesia dan berhasil menjadi juara," ungkap Andi Dara.
Ia mengaku telah mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapi penilaian dewan juri. Tekad tersebut menjadi bekal dalam menjalani perjalanan dari Bengalon menuju Surakarta hingga berhasil membawa pulang gelar juara.
Bagi Kutim, prestasi ini menjadi momentum untuk memperkuat pengenalan identitas daerah di tingkat nasional. Batik Wakaroros dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan warisan budaya, sementara potensi alam, pariwisata, pertanian, perkebunan, dan kreativitas masyarakat menjadi bagian dari gambaran utuh kekayaan Kutai Timur.
Ke depan, pengenalan potensi tersebut diharapkan dapat memperluas apresiasi terhadap budaya lokal sekaligus membuka peluang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan keterlibatan generasi muda dan dukungan berbagai pihak, identitas Kutim dapat semakin dikenal tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi bagian dari jati diri daerah.(*)
Keterangan Sumber: Setiap pengutipan, penyaduran, atau penggunaan informasi dan materi publikasi dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur agar mencantumkan sumber resmi serta menyertakan tautan menuju halaman atau berita asli.
#Footnote
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31.239,84 km² atau 16 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Timur yang terbentuk sejak 12 Oktober 1999 berdasarkan UU. 47 Tahun 1999 ini memiliki jumlah penduduk 464.294 jiwa (semester 2 tahun 2025), terdiri dari 18 kecamatan, 139 desa definitif, 15 desa persiapan dan 2 kelurahan.